Diposkan pada Unforgottable Story

Surat untuk Pak’e di surga

Pak…hari ini tepat sebulan Pak’e meninggalkan kami …anak-anak dan cucu-cucumu. Aaah…rasanya masih seperti mimpi kalau Pak’e meninggalkan kami semua. Rasanya baru kemarin Pak’e  telepon menanyakan kabarku.Rasanya baru kemarin Pak’e cerita kalau Pak’e juga pernah sakit asam urat sepertiku.

Pak…sedang apa ya disana? Nung kangen….Nung pengin telepon. Tapi sekarang nggak bisa lagi kudengar suaramu. Nggak bisa lagi kudengar tawamu. Bahkan tak bisa lagi ku bertanya “Pak’e sehat?” Pak..Nung ikhlas…kami anak-anakmu ikhlas Pak’e pergi. Pergi dengan cara yang dipermudah oleh Allah. Tanpa rasa sakit bahkan InsyaAllah khusnul khotimah.

Pak…Do yo know? Buatku Pak’e the best father I had. Nung nggak pernah nemuin orang sesabar Pak’e. Nggak pernah nemuin orang yang nggak pernah marah kepada istri dan anak-anak seperti Pak’e.Nggak pernah nemu orang tua yang nggak pernah menuntut apapun ke anaknya seperti Pak’e.

Uti and Kung
Uti and Kung

Pak…Nung tahu…meski Pak’e nggak pernah terang-terangan memuji kami anak-anakmu…namun kutahu sebenarnya dirimu bangga pada kami . Rasa bangga yang kau tampakkan saat cerita ke tetangga-tetangga saat kami juara kelas. Rasa bangga saat kau bercerita pada teman-temanmu saat keempat anakmu bisa sekolah di perguruan tinggi negeri semua.

Pak…jarang sekali kulihat mendung di matamu. Dirimu selalu optimis…penuh semangat menjaga dan membesarkan tokomu. Boss yang baik buat para karyawan. Teman yang royal di mata teman , kakak yang baik di mata adik,  suami yang baik di mata istri , bapak yang baik buat kami dan tentu saja akung kesayangan buat para cucumu.

Kung….sekarang tidak ada lagi akung yang suka membelikan mainan, tidak ada lagi akung yang mengajak berenang saat Faris dan Devin cucu-cucumu pulang kampung,Nggak ada lagi akung yang suka kasih angpao, nggak ada lagi akung yang suka menggendong Elang dan Sena cucu-cucumu yang masih kecil dari adik-adikku. Nggak ada lagi akung yang mendorong troli cucumu.

Pak…ribuan kata mungkin tidak bisa mengungkapkan betapa kami mencintaimu. Ribuan doa mungkin tidak bisa menggantikan apa yang selama ini telah kau berikan pada kami. Bahkan jujur…aku belum pernah menyenangkanmu. Belum bisa membalas jasamu. Namun kau adalah ayah yang tidak pernah menuntut. Meskipun kami anak-anakmu belum bisa menyenangkanmu. Belum bisa memberikanmu sesuatu..Bahkan masih sering merepotkanmu.Saat aku ingin pulang kampung sering kau tawarkan tiket pulang pergi untuk kami. Ah…Pak’e….mengingatmu selalu saja membuat air mataku jatuh.

Pak…mungkin banyak orang tua yang harus belajar darimu. Ayah nggak pernah ikut campur rumah tangga anak-anaknya. Ayah yang arif dalam menyikapi sesuatu. Nasihat selalu kau berikan pada kami anak-anakmu. Tak sekalipun emosimu ikut saat mendengarkan kami yang terkadang ada masalah.Bicara dari hati ke hati dan mendengarkan cerita kami sampai puas.Itu yang kau lakukan.

Pak…engkau memang tidak sefasih Pak Ustad dalam membaca Al Quran.Tidak sepintar ibu atau tidak sepintar kami dalam membaca Al qur’an atau ilmu agama.Namun semangatmu untuk mempelajari Islam sungguh kuacungi jempol.Aku pernah menangis terharu….aku pernah tergugu saat kau terbata-bata belajar membaca Al Quran di usiamu yang tidak lagi muda. Semangatmu untuk belajar Al Quran tinggi sekali saat dirimu mau pergi berhaji beberapa tahun lalu. Ah…Pak’e …meskipun tidak pintar mengaji, namun bagi kami kau adalah imam.

Pulang haji
Pulang haji

Pak…kini…kalau kami pulang kampung nggak ada lagi yang bisa kami uyel-uyel. Bagi kami..kau tidak hanya sekedar ayah. Bagi kami kau adalah teman. Teman curhat yang asyik.Teman makan bakso yang menyenangkan, ayah yang menyenangkan buat teman-teman kami yang mengenalmu. Pak… mungkin Pak’e capek minum obat ya. Diabetes Melitus yang kau idap semenjak aku berumur lima tahun dan telah bersemayam hampir 30 tahunan di tubuhmu membuatmu tergantung obat selama 30 tahun.Itu juga yang menyebabkan komplikasi dan mengenai jantungmu.

Uyel uyelan bangun tidur
Uyel uyelan bangun tidur

Malam itu…Rabu 26 Februari saat Ike bbm dirimu masuk UGD rumah sakit jam 10 malam aku masih santai Pak.Ah…paling juga dua tiga hari seperti biasa. Seperti Pak’e yang beberapa tahun ini keluar masuk rumah sakit. Apalagi hari Selasa, sehari sebelumnya kita masih telepon teleponan sehari dua kali. Tapi saat jam setengah dua belas telepon rumah kembali berbunyi perasaanku menjadi tidak enak.Dan benar…dirimu telah tiada Pak.Cepat sekali…tanpa rasa sakit. Meninggal di pangkuan ibu. Bahkan sempat mengucapkan kalimat Allah tiga kali sebelum menghembuskan nafas terakhir. Ya Allah Pak…sungguh aku terharu…Allah mengambilmu dengan cara yang mudah.Setengah jam di kamar rumah sakit dan dengan menyebut nama Allah.

Pak…beberapa minggu sebelum meninggal engkau bercerita kepada ibu..kalau ingin berkumpul bersama semua anak cucu dan pulang ke kampung halaman di Magelang. Padahal dirimu tinggal di Blitar.Aku juga entah mengapa rasanya pengin pulang ke MAgelang terus. Mungkin ini firasat ya Pak. ..Finally kita semua memang pulang ke Magelang Pak..tapi bukan untuk jalan-jalan.Tapi untuk mengantarkan Pak’e ke peristirahatan terakhir.

Pak…jika dirimu masih ada…mungkin Pak’e senang ya ada banyak karangan bunga di rumah mbah. Sayangnya…saat ini karangan bunga itu bukan untuk pernikahan anak-anakmu. Belasan karangan bunga itu adalah ucapan bela sungkawa dari kolega adikmu untuk Pak’e . Berduka cita atas kepergian Pak’e..

 

karangan bunga 1

 

 

1957961_10202303339119019_3236

Selamat jalan Pak…Semoga khusnul khotimah dan kita akan bertemu kembali di surgaNya suatu hari nanti. Love you Pak…Miss you always…

 

Iklan

Penulis:

Seorang ibu rumah tangga dengan dua jagoan yang hobi membaca dan menulis

2 tanggapan untuk “Surat untuk Pak’e di surga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s