Diposkan pada Lomba

Mimpi Itu Bernama Eropa

passport to happines

Penulis buku ini yaitu Mbak Ollie menceritakan perjalanannya di 11 kota dalam 11 cerita. Semua orang mempunyai arti bahagia dengan definisi masing-masing. Mbak Ollie ternyata menemukan kebahagiaannya dengan perjalanan. Banyak kisah bahagia di kota-kota yang dikunjunginya.

Bagiku perjalanan selalu menyisakan banyak kenangan. Kenangan manis, kenangan pahit dan juga kenangan gado-gado. Entahlah sejak kapan tiba-tiba aku suka traveling atau piknik. Tiba-tiba saja aku suka jalan. Entah punya uang atau tidak. Meskipun harus menghabiskan tabungan yang dikumpulkan. Semua perjalananku bisa dibaca di sini. Dari sekian banyak perjalanan ada satu perjalanan yang paling berkesan dan membahagiakan. Perjalananku ke Eropa tiga tahun yang lalu.

Paris, 11 Juli 2012

Hari ini aku berada di depan Menara Eiffel bersama suamiku. Mengambil beberapa foto dari beberapa sudut. Suhu 14 derajat tanpa jaket membuatku badanku agak sedikit menggigil. Saat ini Paris memang musim panas. Tapi suhunya tetap saja tidak bersahabat denganku yang tidak tahan dingin. Sekali lagi kupandangi Menara Eiffel lekat-lekat. Rasanya masih tidak percaya saat ini aku berada di depan menara yang tersohor itu. Kucubit tanganku sekali lagi. Ini nyata dan bukan sekedar mimpi.

CIMG0766

Satu setengah bulan yang lalu suara merdu di ujung telepon membangunkan tidur siangku. Aku pikir mbak-mbak dari kartu kartu kredit atau survey-survey produk seperti biasanya. Jujur aku agak malas menjawab teleponnya. Mengganggu tidur siangku saja. Namun saat suara merdu si mbak menyebut kata Paris mataku langsung terbuka lebar. Si mbak bilang aku memenangkan sebuah lomba menulis berhadiah ke Paris. Dan disinilah aku hari ini. Bersama suamiku dan keempat pasang pemenang lainnya. Rasanya masih seperti mimpi.

 Tiga hari kami habiskan waktu di Paris. Mengunjungi Arch De Triomphe , Museum Louvre, pusat perbelanjaan Champs Elysees dan Istana Versailles. Menyusuri Sungai Seine dan minum kopi di café yang bertebaran di setiap sudut kota cantik tersebut membuat kunjungan kami ke Paris semakin lengkap. Buatku yang seorang pecandu kopi, bisa minum kopi di café di salah satu sudut kota Paris memberikan kenangan dan sensasi tersendiri.

CIMG0847
Bagian dalam museum Louvre

Kemegahan bangunan Istana Versailles  membuatku berdecak kagum. Lukisan-lukisan yang terpahat di dinding dan atap istana, permadani-permadani tebal dan peralatan makan mewah serta taman yang indah ada di depan mata. Cerita-cerita tentang Raja Louis dan Maria Antoinette bisa aku dengar langsung dari guide kami yang mengajak berkeliling istana. Kemewahan istana dari abad ke 16 dengan ribuan kamarnya itu kini ada di depan mata. Subhanallah…

CIMG0974
Bagian luar komplek Istana Versailles

Brussel, 14 juli 2012

Setelah perjalanan kurang lebih satu jam kami sampai di Kota Brussel Belgia. Akhirnya bisa juga aku menginjakkan kaki di negeri ini. Ingatan langsung terbang ke masa dua puluhan tahun yang lalu saat aku duduk di bangku SMP. Aku si anak desa yang menulis di buku BK (Bimbingan Karir)  tentang cita-cita menjadi diplomat agar bisa jalan-jalan dan tinggal di luar negeri. Sebuah pemikiran yang sederhana dan polos tentang sebuah cita-cita. Seiring waktu berjalan cita-citaku selalu berganti. Tetapi keinginan untuk menginjakkan kaki di luar negeri masih terpatri.

Coklat murah sederhana bergambar ayam yang sering dibelikan nenekku saat masih kanak-kanak membuatku ingin mengunjungi negara penghasil coklat yang terkenal di dunia. Dan here I am…di Belgia negara penghasil coklat yang terkenal di dunia. Sekali lagi kutepuk pipiku  Ternyata sakit. Ini nyata..

grand palace
Grand Palace Belgia

Manekin Piss patung anak kecil pipis yang melegenda itu kini ada di depanku.Bersama puluhan turis yang memadati tempat itu,aku ikut berfoto di depan patung anak kecil itu. Sementara teman-temanku sudah antri di waffle Belgia seharga satu Euro yang aromanya sungguh menggoda.

manekin pis
Manekin Piss

Pesta pernikahan yang ada di gereja di komplek Grand Palace membuat kunjunganku makin lengkap.Kapan lagi ya bisa melihat iring-iringan pengantin di luar negeri langsung. Kamera saku yang kubawa ikut mengabadikan acara langka tersebut bersama jepretan puluhan turis lainnya.

Belanda, 15 Juli 2012

Makanan Fish and Chips  yang ada di restoran di Volendam ini sungguh lezat. Aku yang kelaperan langsung melahap habis potongan ikan dan kentang itu. Hhmm…kenyang.

Setelah menyaksikan film dokumenter tentang pembangunan Volendam di salah satu toko souvenir di Volendam aku segera berbelanja. Beberapa souvenir khas Belanda langsung berpindah dari etalase ke keranjang belanjaanku.

volendam 2
Suasana di Volendam

Studio foto dengan frame-frame foto bergambar beberapa artis Indonesia berpakaian khas Belanda menarik perhatianku. Sayang saat aku masuk antrian panjang banget. Tak hilang akal kami masuk studio foto sebelahnya yang kosong. Tak menunggu lama dan taraaaa….jadilah fotoku ala noni-noni berpakaian Belanda lengkap dengan sepatunya yang unik bersama suamiku yang juga berpakaian ala nelayan Belanda.

Ini adalah hari kedua di Belanda atau hari terakhir. Mengunjungi Volendam dan melihat rumah-rumah khas Belanda yang selama ini hanya aku lihat di film-film sambil sesekali berguman kapan aku bisa ke sana. Dan…inilah kekuatan mimpi itu. Finally aku bisa ke Belanda.

volendam 3
Rumah-rumah di Volendam

Hari sebelumnya kami  berkeliling Amsterdam. Mengunjungi tempat pembuatan berlian Coster Diamond, berfoto di depan kincir angin yang merupakan ikon negeri Belanda,  mengunjungi Royal Palace, National Monument dan diakhiri dengan wisata kanal Belanda yang terkenal itu. Rasanya seperti mimpi bisa menyusuri kanal di Belanda dengan perahu.

Jerman, 16 Juli 2012

Katedral di Koln itu berdiri dengan gagahnya. Bangunannya  tinggi menjulang dan tampak tua. Namun hal itu tidak mengurangi kecantikannya. Kuambil kameraku dan segera mengabadikan keindahannya. Sayang kami hanya di luar saja dan tidak masuk.

katedral

Baru kutahu parfum jaman kecil yang disebut cologne itu ternyata berasal dari sini. Dari sebuah kota di Jerman bernama Koln. Ternyata parfum Eu De Cologne 4711  itu cukup melegenda juga di Jerman.

Ingatanku langsung berlari ke tahun 1995 saat aku kelas dua SMA. Tugas praktek berbicara dengan turis dari sebuah kursus Bahasa Inggris di kotaku Magelang membuatku bertemu dengan pasangan turis Jane and Matt di Candi Borobudur. Dan bukan sebuah kebetulan juga kalau ternyata Matt and Jane berasal dari Jerman.

Kartu pos dari Jerman dan sebuah foto pernikahan yang mereka kirimkan padaku adalah surat terakhir mereka,  karena setelah aku kuliah dan kos surat-surat dari sahabat pena tidak terurus dan hilang entah kemana. Dan aku pun loss contact. Kini…aku berdiri di Koln di Jerman. Negara yang sama tempat sahabat penaku dulu berasal. Aah..sungguh sebuah kebetulan yang indah.

souvenir koln
toko souvenir di Koln

 

Dusseldorf Jerman, 16 juli 2012

Ini adalah hari terakhir kami di Eropa. Pesawat Emirates akan membawa kami kembali ke Indonesia dari bandara Dusseldorf Jerman salah satu bandara terbesar di Eropa.  Sambil menunggu waktu boarding yang masih beberapa jam lagi aku termenung.

Sungguh tidak menyangka seorang anak desa yang suka menulis diary sejak SMP dan menuliskan mimpi-mimpinya di sana akhirnya bisa mewujudkan mimpinya. Aku bukan lagi seorang anak SMP yang mewakili sekolah untuk mengikuti lomba mengarang tingkat SMP. Tetapi …aku sang penulis diary amatir ini bisa mewujudkan mimpinya melalui karangannya.

Ratusan perangko dari luar negeri yang kukumpulkan dari SMP dan sering dikasih oleh om ku yang berlayar dengan kapal pesiar keliling dunia seolah menjadi saksi bahwa aku…si anak desa suatu saat nanti ingin berkeliling dunia. Tidak ada salahnya kita bermimpi…karena mimpi masa kecilku pun menjadi nyata.

Perjalanan ke Eropa ini adalah perjalanan yang membuat bahagia. Selain mewujudkan mimpi masa kecil menginjakkan kaki di luar negeri, juga menunjukkan bahwa aku…seorang penulis diary juga bisa memenangkan lomba menulis berhadiah jalan-jalan ini.

Selalu ada hal yang dipetik dari setiap perjalanan. Aku belajar tentang peduli dari seorang staff hotel di Paris. Seorang muslim negro yang mengingatkan kami saat kami salah mengambil pork yang kami kira daging sapi. Kami belajar arti cinta dan menyayangi dari pasangan bapak Tandy Atmi. Pasangan pemenang tertua berumur 70 tahunan yang sangat setia mendampingi istrinya dan saling tunggu saat terpisah. Dan aku pun  belajar ikhlas dari Pak Nurdin guide kami yang ikhlas kehilangan cincin berharganya saat cuci tangan di restoran tempat kami makan. Yaah perjalanan mengajarkan banyak hal. Dan aku belajar dari sana.

dusseldof

Ini cerita perjalanan bahagiaku, mana cerita perjalananmu teman?

Iklan

Penulis:

Seorang ibu rumah tangga dengan dua jagoan yang hobi membaca dan menulis

36 tanggapan untuk “Mimpi Itu Bernama Eropa

    1. Bukan Kontes Ponds Mak Nurul.Tapi Molto Mencari Ayah Romantis.Saat yang lain menulis sisi romantis suami mereka ratusan atau ribuan cerita, aku nulis anti mainstream.Karena suamiku emang gak romantis.Tapi dia romantis dengan ‘cara’ nya sendiri.Jadi tulisanku saat itu berjudul Romantis Ala Mc Gyver. Dikirim by pos.Dan lucky me…aku menang. Tapi ya balik lagi ke bejo itu Mbak.

    1. Hihi…salam kenal juga Mbak Sulis..Wah nggak hebat sih mbak.Namanya bejo.Ini tulisan pribadi sih.Gak ada di blog.Cuman dulu pas saya menang beberapa teman penulis yg cukup dekat pernah saya kirimin tulisannya.Karena penasaran kok bisa menang.Hehe..

  1. Hihi…kata orang Jawa mah ini namanya ‘bejo’ mbak. Kebetulan aja saat itu belum banyak blogger yang ikutan. Ini lomba menulis tentang ayah romantis. Tulisanku anti mainstream di antara ribuan tulisan yang dipampang peserta lain di facebook. Karena tulisanku panjang dan anti mainstream kukirim lah tulisanku itu lewat pos. Dan nggak nyangka banget tulisanku berjudul Romantis Ala Mc Gyver bisa membawaku ke Paris. Hihi..bejo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s