Diposkan pada Pendidikan

Melatih Kemandirian Dan Tanggung Jawab Pada Anak

Waah judulnya melatih kemandirian pada anak. Berat banget ya kayaknya. Secara menurut saudaraku kedua krucilsku kurang mandiri dibanding anaknya dulu saat anaknya seusia krucils. Yaah ada benarnya juga sih. Soalnya selama ini mereka masih terlalu banyak ‘dilayani’. Dari ambil makan, beresin tempat tidur sampai siapin bekal makan dan minum saat berangkat sekolah.

Sebenarnya sih kalau urusan mandiri berangkat les atau berenang ke kolam renang belakang komplek mereka cukup mandiri. Nyatanya aku tidak perlu mengantar mereka. Jika ingin les sore hari atau berenang, mereka berani naik sepeda. Bahkan si kakak sejak kelas tiga sudah berani naik sepeda sendiri saat les. Cuma untuk sekolah, mereka masih diantar jemput oleh emaknya karena sekolahnya kebetulan agak jauh diluar komplek dan harus menyebrang dua kali.

Beberapa temannya yang rumahnya dekat dengan sekolah naik sepeda ke sekolah. Suatu waktu duo krucils merengek hampir tiap hari. Mereka ingin naik sepeda ke sekolah seperti teman-temannya. Akhirnya kuijinkan dengan catatan aku mengikutinya dari belakang naik motor. Hasilnya ? aku malah deg-degan dan senam jantung. Naik sepeda melintasi jalan raya yang padat dengan gaya naik sepeda mereka yang belum ngerti berkendara di jalan besar cukup membuat emaknya teriak-teriak khawatir sepanjang jalan. Begitu pun pulangnya. Waah inginnya melatih mandiri berangkat sekolah sendiri, malah hati tidak tenang. Akhirnya untuk urusan sekolah tetap diantar naik motor. Naik sepeda kemarin itu pertama dan terakhir.

Kemabli ke kemandirian di rumah. Kebetulan si mbak sudah hampir tiga minggu tidak masuk karena sakit. Terpaksa si emak mengerjakan segala sesuatunya sendirian. Karena sedang hamil, jadi lebih mudah capek. Soo..mulai sekarang mau nggak mau anak-anak harus mandiri dan tidak bergantung sama si emak. Karena mbak nggak masuk, jadi anak-anak harus membantu ibunya.

Si kakak bertugas menyapu setiap sore, si adik bertugas membuang sampah ke depan, menutup korden kamar dan ruang tamu setiap sore serta menyalakan lampu teras. Si kakak juga bertugas membawakan ember cucian ibu dari mesin cuci ke lantai atas tempat menjemur. Jadi ibunya tinggal jemur aja. Untuk makan mulai sekarang mereka belajar mengambil nasi dan lauk sendiri, jadi tidak diambilkan lagi. Ya..hitung-hitng belajar kalau nanti mereka punya adik. Kan ibunya pasti sibuk. Jadi mereka harus belajar mandiri dan melakukan semuanya sendiri tanpa dilayani.

Untuk menggoreng, membikin mie dan yang gampang-gampang si kakak sudah bisa melakukannya sejak kelas dua. Jadi saat emak teler dan nggak bisa bangun dan dia lapar, dia bisa menggoreng telur , sosis atau membikin mie sendiri. Semantara si adik belum bisa.

Jadi mulai sekarang, kita latih kemandirian anak yuuk. Berat sih pada awalnya. Nyuruhnya pakai berulang kali. Namun lama-lama anak-anak terbiasa. Setiap pagi mereka juga menyiapkan bekal minum sendiri, sementara si emak menyiapkan bekal makannya. Sekarang mereka juga belajar bertanggung jawab mengunci pagar setiap malam. Alhamdulilah pekerjaan si emak menjadi agak ringan sekarang. Paling cuma masak  dan setrika yang gampang-gampang. yang susah-susah sementara pakai laundry setrika sambil menunggu si mbak masuk kerja lagi.

Iklan

Penulis:

Seorang ibu rumah tangga dengan dua jagoan yang hobi membaca dan menulis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s